Senin, 09 Maret 2009

JERITAN TAK BERMAKNA

Ketika aku mulai kehilangan semua
semua temanku,pacarku,orang-orang yang pernah di hatiku
mereka menghilang lenyap
aku tak tau lagi
harus kemana mencari mereka
haruskah aku berteriak pada angin
agar tiap hembusannya slalu membisikkan pada mereka
bahwa aku rindu
atau aku harus berteriak pada bintang
agar sinar kecilnya mampu memancarkan
gejolak rinduku
sekarang aku sendiri
berpijak tanpa seorang pun yang peduli
mungkin aku akan menangis
jika aku tak malu pada angin juga bintang
"kenapa kamu harus bersedih,sedang kamu bisa bernafas
wujudmu slalu nyata
sedang aku"
bisik angin suatu waktu
"aku tak bisa terlihat, hanya gerakku yang bisa terasa"
dan bintang pun menyambung
"sedang aku hanya muncul di malam hari,
karna aku slalul kalah oleh cahaya matahari"
angin.. bintang...
mungkin hanya kalian temanku saat ini
entah sampai kapan aku bisa berteman lagi dengan mereka
aku tak tau....
aku tak tau..........
dan selamanya tak akan pernah tahu...

aku dan kesedihan

Batu sangkar, Maret '09

aku slalu bertanya
tentang hatiku,kenapa aku bersedih
dia pun datang menjawabnya
tapi aku tak mengenalmu!
sentakku waktu itu
kau malah tersenyum dengan sejuta kemenanganmu
kenapa kau slalu muncul?
kenapa?
kau slalu mengacak-acak hidupku
hingga air mata,jeritan,umpatan mengikutku
tapi kau slalu puas dengan smua itu
dan hari ini....
kau datang lagi untuk menggangguku
kau slalu tersenyum
penuh kemenangan
tapi sesaat kau pun berbisik padaku
aku tak akan lelah mengikutimu
selama senyummu slalu bersembunyi di hatimu
kesedihan....
kenapa kau slalu ada?
andai bisa ku membunuhmu
mungkin telah ku asahkan belati tajam untukmu
tapi ku sadar
sejatinya kaulah pewarna hidupku
yang membuatku menghargai arti keceriaan dalam hidupku